Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer

Mengurai Benang Kusut Indikasi Kematian Massal Eksistensi Tuhan di Abad Globalisasi

  • Nurul Anam STAIN Jember
Keywords: Teosentris, Humanisme, Ubermensch, Globalisasi, Tuhan New Nietzsche

Abstract

The “post god” era represents a period indicating about mass death of god and describing a human life that  existentially "kill" god position, and not be trapped at formally absolute dogmatic. In this era, new-Nietzsche god faces with very high desire of absolute power emerge. They disobey there is something else takes a grip on them. They are conscious that there is God, but that is only at formal testimony level, not at substantial-operational level. If this phenomenon is analyzed farther, then it will be clear that the emergence of new-Nietzsche god faces in the “post god” era has caused a crisis of god consciousness. Thereby, deconstruction of god consciousness to change new-Nietzsche god to become perfect humanity and transform him to become God proxy in the world is a kind of progressive and meaningful action to the better future of world civilization.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abdul Munir Mulkhan, Neo Sufisme dan Pudarnya Fundamentalisme di Pedesaan (Yogyakarta: UII Press, 2000).
Abu Hatsin, “Kata Pengantar”, dalam Islam dan Humanisme: Aktualisasi Humanisme Islam di Tengah Krisis Humanisme Universal, ter. Dedi M. Siddiq (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan IAIN Walisongo Semarang, 2007).
Ahmad Arifi, Politik Pendidikan Islam: Menelusuri Ideologi dan Aktualisasi Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi (Yogyakarta: Teras, 2009).
Ahmad Muflih Saefudin, “Tata Nilai dan Kehidupan Spiritual di Abad XXI”, dalam Permasalahan Abad XXI: Sebuah Agenda (Yogyakarta: Sipress, 1993).
Aksin Wijaya, “Moralitas Eksistensial Versus Moralitas Ideal: Telaah Perbandingan antara Nietzsche dan Muhammad Iqbal”, Jurnal Dialogia Jurusan Ushuluddin STAIN Ponorogo, vol. 4 no. 1 (Januari-Juni 2006).
Budhy Munawar-Rahman, “Kesatuan Trasedental dalam Teologi: Perspektif Islam tentang Kesamaan Agama-Agama”, dalam Dialog: Kritik dan Identitas Agama, ed. Tim Redaksi (Yogyakarta: Dian/Interfidei, 1993).
Eko Prasetyo, Membela Agama Tuhan: Potret Gerakan Islam dalam Pusaran Konflik Global (Yogyakarta: Insist Press, 2003).
Erick From, Lari dari Kebebasan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997).
Fazlur Rahman, Filsafat Mulla Shadra (Bandung: Penerbit Pustaka, 2000).
Frans Magnis-Suseno, “Humanisme Religius vs Humanisme Sekuler?”, dalam Islam dan Humanisme: Aktualisasi Humanisme Islam di Tengah Krisis Humanisme Islam di Tengah Krisis Humanisme Universal, ter. Dedi M. Siddiq (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan IAIN Walisongo Semarang, 2007).
________, 13 Tokoh Filsafat: Sejak Zaman Yunani Sampai Abad Ke-19 (Yogyakarta: Kanisius, 1998).
Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil: Prelude Menuju Filsafat Masa Depan, ter. Basuki Heri Winarno (Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002).
_________, Senjakala Berhala dan Anti-Krist (Yogyakarta: Bentang, 1999).
_________, The Will to Power, ed. Welter Kaufman (New York: Vitge Books, 1968).
Gilles Deleuze, Filsafat Nietzsche, ter. Basuki Heri Winarno, (Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002).
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1996).
_______, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius, 2002).
Imam Taufiq, “Maqamat dan Ahwal (Tinjauan Metodologis)”, dalam Tasawuf dan Krisis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001).
Ishrat Hasan Ever, Metafisika Iqbal, (Yogyakarta: 2004).
Isiah Berlin, Empat Essei Kebebasan (Jakarta: LP3ES, 2004).
Jean P. Sartre, Eksistensialisme dan Humanisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002).
John F. Haught, God After Darwin (Tuhan Sesudah Darwin): Teologi Evolusioner (Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002).
Juergen Hubermas, Ilmu dan Teknologi Sebagai Ideologi (Jakarta: LP3ES, 1990).
Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyudi Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003).
M. Syarif, Tuhan dan Keindahan (Bandung: Mizan, 1984).
Marcel Neusch dan Vincen P. Miceli, 10 Filosof Pemberontak Tuhan (Yogyakarta: Pantha Rhei Books, 2004).
Muhammad ‘Abîd al-Jabîrî, Isykâliyât al-Fikr al-Arabî al-Muashar (Beirût: Markaz Dirâsah al-Wahdah al-Arabiyah, 1989).
Muhammad Iqbal, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1983).
Mullâ Shadrâ, Kitab Masya’ir (Teheran, 1964).
Mustamin Al-Mandary, Menuju Kesempurnaan: Persepsi dalam Pemikiran Mulla Shadra (Makasar-Yogyakarta: Safinah dan Rausyan Fikr, 2003).
Nurul Anam, “Puasa dan Upaya untuk Memperbaiki Kesadaran Ilahiah dalam Seks Bebas Ramaja”, Buletin Incredibel HMJ Tarbiyah STAIN Jember 2/10/2007.
Paul Heelas, “Tentang Diferensiasi dan Dediferensiasi: Sebuah Kata Pengantar”, dalam Agama Sudah Mati?, ed. Paul Heelas (Jakarta: Mediator, 2003).
Pujiono, “Manusia dalam Perspektif Eksistensialisme dan Al-Qur’an”, Jurnal al-'Adalah STAIN Jember vol. 2 no. 1 (Agustus, 2004).
Reo Rauch, Filsafat Sejarah G.W.F Hegel, ter. Win Ushuluddin dan Harjali (Yogyakarta: Pantha-Rei Book, 2003).
Robingatun, “Tanggung Jawab Sosial Sufisme dalam Menyikapi Krisis Spiritual”, Jurnal Empirisme STAIN Kediri, vol. 17 no.1 (Januari 2008).
Sri Rahayu Wilujeng, dalam Listiono Santoso, Epistemologi Kiri (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2003).
Tim Redaksi Suara Hidayatullah, “Kajian Utama: Mengimani Sebagian, Kafir pada Yang Lain”, Suara Hidayatullah 06/XV/ Oktober 2002.
Trias Kuncahyono, “Menatap Dunia, Menatap Kita”, dalam Lorong Panjang Laporan Akhir Tahun 2001 Kompas, ed. Tim Penerbit Buku Kompas, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002).
Van Peursen, Tubuh-Jiwa-Roh: Sebuah Pengantar dalam Filsafat Manusia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981).
_______, Menjadi Filosof: Suatu Pendorong ke Arah Berfilsafat Sendiri (Yogyakarta: Qalam, 2003).
Published
2017-11-04
How to Cite
Anam, N. (2017). Mengurai Benang Kusut Indikasi Kematian Massal Eksistensi Tuhan di Abad Globalisasi. Ulumuna, 13(2), 351-380. https://doi.org/10.20414/ujis.v13i2.365
Section
Articles