Matinya Kepercayaan Agama
Abstract
Otoritas agama sebagai pembawa kedamaian, keberkahan, dan kesejahteraan bagi umat manusia dewasa ini semakin digugat. Kalangan filosof telah memberi preseden bagi gugatan itu. Agama dianggap tidak lagi sejalan dengan kehidupan modern yang rasionalistik.[1] Nietzche, misalnya, dengan statemen “God is dead”-nya, menggugat agama dan kepercayaan umat manusia sebagai sesuatu yang sama sekali tidak menolong kehidupan dan karenanya ditinggalkan oleh para penganutnya. Karl Marx melihat agama hanyalah sekumpulan mitos-mitos metafisik yang meninabobokan dan seringkali menjadi alat untuk melegitimasi berbagai praktik penindasan sehingga agama tidak ubahnya candu bagi kehidupan. Pandangan skeptis terhadap agama terus berkembang mengikuti mainstreammodernitas. Agama kemudian dibenturkan dengan rasionalisasi cara pandang terhadap segala aspek kehidupan, dan itu seringkali berakhir dengan keterpojokan posisi agama. Pada tataran filosofis, gugatan terhadap agama terjadi karena agama terkikis sedikit demi sedikit pijakan argumentatifnya oleh serbuan rasionalisme modern. Sementara pada tataran sosiologis, agama digugat karena kehilangan elan vitalnya sebagai entitas pembangunan masyarakat di satu sisi dan keterlibatannya yang intens dalam berbagai praktik penindasan, konflik, dan kekerasan.
Downloads
References
George Grant, The Blood of the Moon: Understanding the Historic Struggle Between Islam and Western Civilization (Nashville: Thomas Nelson Publisher, 2001).
Lester Kurtz, Gods in the Global Village (California: Pine Forge Press, 1995).
Oliver Roy, Genelogi Islam Radikal, ter. Nasrullah Ompu Bana (Yogyakarta: Genta Press, 2005).
Peter Angeles (ed.), Critiques of God: A Major Statement of the Case Against Belief in God (Buffalo: Promotheus Books, 1976).
Sam Harris, The End of Faith (New York: W. W. Norton & Company, 2005).
Copyright (c) 2006 Ulumuna

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.